jump to navigation

Biografi Ayah 09/11/2011

Posted by Alam in Artikel.
Tags:
add a comment

Auto Biography Ayah dan Cerita Jaing Hulu / Pulau Pinang Versi Ayah Ku

Sebelumnya artikel ini belum lengkap betul jadi saya posting seadanya dulu, dan akan direvisi selanjutnya.

Nama      : Gupran bin Darjab

Lahir      : Tanggal …. Bulan ….. Tahun 1954

Pada masa itu semua kampung dari masukau sampai ingsim semuanya di pinggiran sungai Jaing yang bermuara ke sungai Tabalong, Kampung kami diberi nama Jaing Hulu sedangkan Jaing hilir itu adalah  Pasar Panas.

Rumah abah dahulu di dekat luuk binuang (luuk = bagian tedalam dari sungai biasanya ada banyak di setiap sungai tsb). Berdekatan dengan langgar / musholla, Sebelum perkampungan penduduk di pindah  cerita berawal dari seringnya banjir melanda perkampungan.

Saat itu umur ayah kira baru 5 tahunan,  sepanjang bulan banjir selalu melanda perkampungan selama kurang lebih 10 tahun, dalam satu bulan hanya beberapa hari banjir tersebut surut.

Lalau muncul ide dari orang-orang kampung dengan kondisi tersebut sebaiknya perkampungan di pindah saja ke padang, (dahulu kampung saat ini adalah pada ilalang luas)

Di mulai gotong royong pada tahun 1959, setiap rumah di gotong/dipindah  secara bersama-sama, pindah ke padang ilalang luas yang kelak jadi perkampungan jaraknya  kira2 5 km dari kampung terdahulu. Kira-kira 3 tahun kemudian seluruh perkampungan sudah berpindah semua ke tempat yang baru, yaitu padang yang jauh dari sungai sekitar tahun 1961.

Rumah Abah di perkampungan yang baru persisis di hadapan Langgar/Musholla saat ini yang bernama (Darul Falah) pada kolam tertulis (tgl bulan lupa dan tahun 1961) nanatinya mushollah ini berubah jadi mesjid.

Tahun tersebut kampung ini bermula, hal itu juga sama pada kampung tetangga baik warah sungai ulin, kambiri, ingsim sampai ke bilas.

Bekas perkampungan dulu bisa di lihat dari galian parit buatan belanda dengan mempekerjakan penduduk di pinggiran sungai jaing, Orang-orang menyebutnya buruk banua (artinya kampung zaman dulu).

Di tahun  1959 sampai 1967 banyak penduduk terkena penyakit ganas berupa cacar dan muntaber akut, setiap yangg terkena bisa meninggal semua dalam satu keluaraga, kata ayah dalam satu bulan ada 20 penduduk yg meninggal karena penyakit tersebut menular.

Ayah juga menemui zaman gerombolan, yaitu zaman perlawanan mantan pejuang yang tersisih karena tidak di pakai orang istilahnya tidak punya keahlian sedangkan mereka mantan pejuang kemerdekeaan.

Alkisiah mereka itu punya bermacam-macam kajian seperti tahan bacok, tahan tembak dll, dan banyak lagi versi cerita zaman tersebut. Menurut kisah ayah pimpinan gerombolan tersebut adalah orang bongkang  yaitu daerah wirang.

Pada masa itu kehidupan melarat sekali, kampung selalu dijarah, barang-barang penduduk di rampas gerombolan. Sampai akhirnya di tangkap semua gerombolan tsb. Kata ayah penjara Tanjung sampai tidak muat.,Sebagian tahanan di pindah ke kandangan. Zaman gerombolang tsb antara tahun 1950 – 1962.

Ayah menikah dengan ibu bermula dari nenek  (saanah) ingin punya anak perempuan yang menemani ke ladang, saat itu nenek meminta hal tersebut pada ma Abdur,

Dijawab lah tidak bisa kaerena nenek punya anak laki-laki takutnya nanti jadi bahan gunjingan penduduk kampung, Saat itu ibu masih kelas 2 SR.

Jadi singkat cerita di kawinkan lah ayah (Gupran) dengan ibu (Norati), kata ayah saat itu belum ada niat kawin hehe.. (dijodohkan ceritanya tahun tahun 1970-an). Ayah sih lebih naksir kakak ibu yang anak nomer 1. Tapi ibuku itu orangnya rajin dan ulet kata ayah. Tak apalah daripada kawin cerai kayak artis  :)   ….

Ikut lah ayah dan ibuku bersama nenek  mengerjakan ladang berpindah, (ibuku sangat ahli becocok tanam / berladang) karena belajar langsung dari nenek. Setelah bisa bercocok tanam sendiri kemudian ortu berdua mandiri, yaitu ber Ladang senidiri biasanya selesai panen padi ditanam pohon karet.

Kakak pertama bernama Syaripuddin lahir tahun 1975 an,  Kakak yang kedua  Aisyah lahir tahun 1986 an, Saya lahir tahun 1988 KTP (1989 hehe), dan adik saya Fatimah lahir tahun 1992.

Pada masa sulit tahun 1970-an kakak ku no.1 tidak berhasil menyelasinkan SMP nya sedangkan kakak no.2 menyelasikan MTS di bilas. kemudian kedua Kakakku bekerja di pertamina Murung Pudak.

Ayah,ibu dan saya ke upau saat umur saya kira 5 tahun karena ayah bekerja sebagai tukang. Ibu mengaruni karet orang disana dengan cara bagi hasil. Itu semua sambil menunggu karet sendiri besar dan siap panen.

Di upau saya masih kecil sekali punya teman atau tetangga yaitu mumen dan mumey. Sampai saat ini aku hampir tidak bernah ketemu dengan teman ku ini. Mereka main bersama anjing sedangkan aku menangis ketakutan.

Bersambung…..